Selama penelitian berlangsung, Sekprodi Manajemen Dakwah FUAD UIN Gus Dur Pekalongan melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi bersama tokoh agama, tokoh adat, perangkat desa, serta masyarakat setempat. Fokus penelitian diarahkan pada sejarah masuknya Islam di Pegayaman, tradisi sosial-keagamaan masyarakat, hingga pola komunikasi dakwah yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain mengkaji sejarah dakwah Islam awal di Bali, penelitian juga menyoroti nilai-nilai toleransi dan kehidupan multikultural masyarakat Pegayaman. Tradisi gotong royong, penghormatan terhadap adat lokal, dan hubungan sosial yang harmonis antara masyarakat Muslim dan Hindu menjadi bagian penting dalam pengumpulan data lapangan. Dalam keterangannya, Ahmad Hidayatullah menyampaikan bahwa Pegayaman merupakan contoh nyata bagaimana dakwah Islam dapat tumbuh melalui pendekatan damai dan humanis. Menurutnya, keberhasilan masyarakat Pegayaman menjaga harmoni sosial tidak terlepas dari kuatnya nilai persaudaraan dan penghormatan terhadap budaya lokal yang diwariskan sejak generasi awal.
“Pegayaman bukan hanya menyimpan jejak sejarah dakwah Islam di Bali, tetapi juga menghadirkan praktik moderasi beragama yang hidup di tengah masyarakat. Dakwah berkembang melalui keteladanan sosial, dialog budaya, dan hubungan kemanusiaan yang kuat,” ujarnya.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik bagi pengembangan ilmu Manajemen Dakwah sekaligus memperkuat literasi sejarah Islam di Bali. Selain itu, hasil penelitian tersebut juga diharapkan mampu mendukung penguatan tridarma perguruan tinggi, memperluas jejaring akademik, serta meningkatkan pengembangan kajian moderasi beragama di lingkungan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.